BEKASI – Taman bermain merupakan salah satu fasilitas publik yang sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya anak-anak. Kehadiran ruang bermain yang bersih, aman, nyaman, serta memiliki berbagai wahana tentu menjadi nilai tambah bagi lingkungan dan memberikan ruang bagi anak untuk bermain dengan layak.(18/09/2026)
Salah satu contoh dapat dilihat di Taman Bermain RW 10 Komplek Angkatan Laut (AL). Kondisi taman yang terlihat rapi, bersih dan dilengkapi berbagai wahana permainan membuat warga antusias memanfaatkannya. Tak hanya anak-anak, para orang tua pun merasa nyaman menemani buah hati mereka bermain.
Kondisi tersebut mendapat apresiasi dari Iyung, warga Kampung Bulak, Jatikramat, yang mengaku senang melihat anaknya dapat menikmati fasilitas bermain yang layak.
> “Ya, Mas, saya sangat senang karena tamannya bersih, rapi dan layak dinikmati warga sekitar,” ujar Iyung, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, kebersihan dan keberadaan berbagai wahana permainan membuat anak-anak betah bermain.
> “Taman yang bersih dan tempat bermain anak yang menarik membuat anak saya senang bermain lama-lama di sana,” tambahnya.
Namun, keberadaan taman RW 10 tersebut sekaligus menjadi cermin sekaligus tamparan bagi pelaksanaan proyek taman bermain di tempat lain. Pasalnya, tidak sedikit proyek fasilitas publik yang nilai anggarannya mencapai ratusan juta hingga mendekati miliaran rupiah, tetapi hasil akhirnya justru dipertanyakan masyarakat.
Ironisnya, ketika anggaran yang digelontorkan cukup besar, masyarakat tentu memiliki ekspektasi terhadap kualitas pekerjaan. Jangan sampai proyek publik hanya berhenti pada status “selesai dikerjakan”, tetapi secara fungsi tidak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
Jika sebuah taman dibangun dengan anggaran fantastis namun wahana minim, kondisi cepat rusak, lingkungan tidak terawat, atau bahkan jarang digunakan masyarakat, maka patut dipertanyakan di mana letak perencanaan, pengawasan, dan kualitas pekerjaan tersebut.
Proyek dengan uang rakyat seharusnya bukan sekadar mengejar pekerjaan selesai dan serah terima. Kontraktor atau pemenang tender juga harus membuktikan bahwa pekerjaan yang dikerjakan benar-benar berkualitas dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Taman RW 10 Komplek AL dapat menjadi contoh sederhana bahwa fasilitas publik tidak harus mewah untuk menarik perhatian warga. Yang terpenting adalah rapi, bersih, aman, memiliki wahana yang layak dan benar-benar bisa digunakan masyarakat secara gratis.
Iyung pun berharap kualitas seperti itu dapat menjadi standar bagi pembangunan taman bermain di wilayah lainnya.
> “Harapannya, ke depan siapa pun yang memenangkan proyek taman bisa membuat seperti contoh yang ada di Komplek AL RW 10. Rapi, bersih, banyak wahana bermain dan gratis pula,” pungkasnya.
Pada akhirnya, anggaran besar harus melahirkan manfaat yang besar pula. Jangan sampai uang rakyat habis untuk proyek yang secara fisik terlihat selesai, tetapi ketika ditanya manfaatnya bagi warga, justru tidak banyak yang bisa dibanggakan.
(Endy)










