![]() |
| acara tasyakuran khitanan yang digelar di kediaman keluarga Bapak Bonar dan Ibu Indri Astuti |
Bekasi – kritikbekasi.com – Suasana penuh kehangatan dan nuansa budaya Betawi mewarnai acara tasyakuran khitanan yang digelar di kediaman keluarga Bapak Bonar dan Ibu Indri Astuti, di Jalan Kemang Sari I, Jalan Haji Wahab I, RT 07/RW 03, No. 59B, Bekasi, Sabtu (27/6/2026).
Acara tersebut diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur atas khitanan putra mereka, Iqbal Fatahillah, sekaligus menjadi momentum untuk melestarikan tradisi adat Betawi yang sarat akan makna, nilai budaya, dan ajaran luhur.
Menjelang puncak acara tasyakuran, keluarga menggelar prosesi Ngarak Nganten Sunat, sebuah tradisi khas Betawi yang hingga kini masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Dalam tradisi ini, anak yang telah dikhitan diarak layaknya seorang pengantin dengan iringan musik tradisional, doa, serta kebersamaan warga dan keluarga.
Bagi masyarakat Betawi, prosesi Ngarak Nganten Sunat bukan sekadar arak-arakan atau hiburan semata. Tradisi ini merupakan simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas kelancaran proses khitan, sekaligus bentuk penghormatan kepada sang anak yang memasuki fase baru dalam kehidupannya sebagai seorang muslim.
Dalam filosofi adat Betawi, khitan menjadi penanda bahwa seorang anak mulai memasuki gerbang kedewasaan. Oleh karena itu, prosesi arak-arakan menjadi doa bersama agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, bertanggung jawab, berbakti kepada kedua orang tua, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Nuansa Betawi semakin terasa melalui dekorasi, busana adat, iringan musik tradisional, serta semangat gotong royong warga yang turut menyukseskan acara. Kebersamaan tersebut mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan yang sejak dahulu menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Betawi.
![]() |
| Ngarak Nganten Sunat warisan budaya yang penting untuk terus dijaga |
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tradisi seperti Ngarak Nganten Sunat menjadi warisan budaya yang penting untuk terus dijaga. Selain mempererat tali silaturahmi antarwarga, tradisi ini juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal dan mencintai budaya leluhurnya.
Melalui tasyakuran khitanan yang dikemas dengan nuansa adat Betawi, keluarga besar Bapak Bonar dan Ibu Indri Astuti berharap tradisi ini tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang penuh makna dan nilai-nilai luhur.
Turut hadir dalam acara tersebut jajaran pengurus dan anggota FBR ke kediaman acara Khitanan yang dimana Wilayah Acara khitanan tersebut juga merupakan Gardu FBR 0268 Tenggarangan korwil kota bekasi.
Kehadiran mereka menjadi wujud silaturahmi sekaligus bentuk dukungan nyata terhadap penyelenggaraan tasyakuran khitanan yang mengusung adat dan budaya Betawi. Momentum ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya leluhur agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi penerus.
(Red/Endy)








