Bekasi - Hari Jumat menempati posisi istimewa dalam ajaran Islam. Ia disebut sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari), karena pada hari inilah berbagai keutamaan dan keberkahan Allah SWT dilimpahkan kepada umat manusia. Oleh sebab itu, setiap amal kebajikan yang dilakukan pada hari Jumat memiliki nilai spiritual yang lebih tinggi, termasuk ibadah sedekah. (09/01/2026)
Sedekah dalam Islam tidak semata-mata dipahami sebagai pemberian materi, melainkan sebagai instrumen penyucian jiwa dan peneguhan solidaritas sosial. Ketika sedekah dilaksanakan pada hari Jumat, nilai ibadah tersebut semakin kuat karena beririsan dengan waktu yang secara teologis dinilai mulia.
Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal saleh pada hari Jumat. Dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Prinsip ini menegaskan bahwa sedekah bekerja tidak hanya pada dimensi ekonomi, tetapi juga pada tataran spiritual dan sosial.
Selain itu, hari Jumat memiliki waktu mustajab, yaitu saat di mana doa-doa lebih berpeluang untuk dikabulkan. Sedekah yang disertai doa pada hari tersebut diyakini menjadi wasilah terkabulnya hajat, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Dengan demikian, sedekah pada hari Jumat dapat dipandang sebagai bentuk ikhtiar batiniah yang selaras dengan tuntunan syariat.
Dari perspektif moral dan sosial, sedekah di hari Jumat juga berfungsi sebagai penguat nilai empati dan kepedulian terhadap sesama. Ia menjadi sarana distribusi kesejahteraan dan alat perekat ukhuwah Islamiyah, terutama di tengah kesenjangan sosial yang masih menjadi tantangan umat. Praktik ini mencerminkan Islam sebagai agama yang menekankan keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial.
Lebih jauh, sedekah dipercaya sebagai sarana penghapus dosa dan penolak bala. Dalam kerangka teologi Islam, tindakan memberi dengan ikhlas mencerminkan ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sedekah di hari Jumat bukan hanya amal individual, melainkan juga kontribusi nyata bagi kemaslahatan kolektif.
Sebagai penutup, sedekah di hari Jumat merupakan ibadah yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan moral. Ia mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak diukur semata dari akumulasi harta, melainkan dari sejauh mana harta tersebut memberi manfaat bagi sesama. Dengan menjadikan sedekah sebagai amalan rutin di hari Jumat, umat Islam tidak hanya meneladani sunnah Rasulullah ﷺ, tetapi juga membangun peradaban yang berlandaskan nilai keadilan dan kepedulian sosial.
(Red/endy)
.jpeg)





